Title : Garlic Breads
Author : himawarigurl21
Cast(s) : (y/n) as you, Your bias as (yb), some OC(s)
Genre : detective story, romance
Disclaimer : the plot is originally mine. I don’t own the
cast. It’s 1st POV! Happy reading~^^
###
“All start from a
plate of garlic breads.”
~-~-~
“Akhirnya kita bernafas juga walau untuk sehari..” ucapan
dari teman yang duduk di sebelahku itu membuatku tersenyum setuju. Ya benar.
Akhir-akhir ini, kami sedang banyak pekerjaan. Bekerja di bagian forensik
membuatku lelah. Kami harus bercokol dengan tubuh manusia-manusia yang menemui
ajal mereka dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mati dibunuh, bunuh diri,
bahkan sampai dimutilasi. Memang mengerikan, tapi inilah profesiku. Dan tentu
saja, aku menyukainya. Jangan konyol, untuk apa aku bersekolah dengan susah
payah, lalu kini membenci apa yang sudah kucita-citakan sejak dulu?
“Setidaknya begitu. Tapi kita belum tahu apa-“ . “Kasus
baru!” kata-kata temanku itu menggantung begitu saja setelah kepala forensik
masuk ke ruangan kami sambil membawa berkas-berkas. Semua kompak menghela
nafas. Menyesal karena berpikir bahwa ini hari tenang kami.
“Sesosok mayat lelaki ditemukan di ruang CEO Specta Corp.
dalam keadaan terduduk dan kepala di atas meja. Tim detektif baru saja sampai
di sana. Aku mau (y/n), Haerin, dan Seungyoon ke TKP sekarang..” lanjut kepala
forensik tanpa jeda sedikitpun. Aku lantas terbelalak. Setelah kepala forensik
meninggalkan ruangan, aku dan kedua temanku mengikuti beliau. Setelah membawa tas
berisi jas lab, sarung tangan karet, dan beberapa alat-alat, aku pergi menuju
van lembaga kami.
~-~-~
Van kami berhenti di depan sebuah
gedung bertingkat yang megah. Kami masuk melewati garis polisi yang sudah
dipasang. Langkah kami bergema. Koridor itu benar-benar sepi. Sepertinya tidak
ada yang bekerja di gedung ini sama sekali. Pintu kayu berwarna maroon terbuka
cukup lebar. Terlihat beberapa orang tengah berjongkok di hadapan sesosok
mayat. Seorang pria tua. Jas biru tua yang membalutnya benar-benar masih rapi.
Aku langsung berasumsi kalau pria itu tidak mati karena tindak kekerasan. Tak
ada luka sama sekali. Tetapi terdapat beberapa bercak-bercak coklat. Aku
mengenakan masker, sarung tangan karet, dan kacamata khusus, kemudian bergabung
dengan tim forensik dan polisi.
“Tak ada barang bukti di sini. Tak ada barang bukti yang
memungkinan korban menerima tindak kekerasan untuk menemui ajalnya. Asumsi
sementara kami, dia bunuh diri atau diracuni..” ucap kepala polisi kepada
seorang detektif berbalut jas coklat yang tengah mengerutkan keningnya.
Keracunan? Tapi tak ada aroma khas yang tercium walau jarakku dan mayat itu
kurang dari 10 cm.
“Apa ada saksi?” tanya detektif itu dengan wajah yang masih
serius.
“Dalam 2 jam sebelum kematian korban, korban hanya
berinteraksi dengan 2 orang. Sekertarisnya dan istrinya. Mayatnya ditemukan
oleh seorang cleaning service tadi pagi sekitar pukul 6. Pintunya terkunci.
Cleaning service itu yang biasanya memegang kunci.” ucap kepala polisi itu
membaca catatan kecil di tangannya. Aku memeriksa mayat itu sekilas. Belum ada
bau busuk sama sekali. Mayat akan mulai membusuk setelah 8 jam kematian. Itu
berarti beliau dibunuh kurang dari 8 jam yang lalu.
“Panggil cleaning service itu, aku butuh keterangan
darinya..” ucap detektif itu serius. Aku memperhatikan fisik mayat itu sekali
lagi. Hanya terdapat pigmentasi coklat di beberapa bagian tubuhnya. Aku
teringat sesuatu.
“Seungyoon, aku menemukan sesuatu..” aku memanggil Seungyoon
yang tengah sibuk memeriksa bagian kaki korban. Seungyoon dan Haerin
menghampiriku.
“Kau menemukan apa?” tanya Seungyoon antusias.
“Pigmentasi coklat ini. Aku ingat kalau pigmentasi coklat
menjadi ciri-ciri orang yang keracunan arsenik. Kondisi ini disebut melanosis arsenik.” Ucapku menunjukkan
apa yang kutemukan.
“Bicara tentang keracunan arsenik, sepertinya aku menemukan
hal yang sama. Ada garis putih melintang di kuku tangan korban. Bukankah garis
seperti ini yang disebut dengan mee’s
line?” tanya Haerin menunjukkan apa yang ia temukan.
“Bagaimana kalau kita segera ke kantor? Aku akan
memeriksanya lebih lanjut..” ucap Seungyoon merain telepon genggamnya untuk
menghubungi kepala forensik.
“Cheogi, neo..” panggilan itu membuatku berbalik dan menujuk
diri sendiri. Detektif itu mengangguk. Aku menghampirinya. “Bisakah aku minta
tolong untuk memeriksa garlic bread di piring itu dan air dalam mug itu juga?
Siapa tahu mengandung racun arsenik seperti katamu..” ucap detektif itu sopan.
Aku mengangguk dan tersenyum. Seungyoon mengamankan garlic bread dan air dalam mug
itu. Tak lama berselang, van yang tadi membawa kami telah tiba. Aku membereskan
barang-barangku.
“Cheogi, aku harus kembali ke kantor forensik. Gamsahamnida
untuk kerjasamanya..” ucapku membungkuk pada detektif itu.
“Nado gamsahamnida. (yb) imnida, jangan panggil aku
cheogi..” ucap detektif bernama (yb) itu terkekeh kecil. Aku ikut
terkekeh.
“Mianhamnida, (yb)-ssi. Aku permisi dulu..” aku melangkah
keluar ruangan.
“Cheogi, namamu siapa?” teriakan itu terdengar dari dalam.
Aku tak mungkin masuk untuk menjawabnya. Akupun berjalan ke van dengan rasa
bersalah. Mungkin lain kali aku akan menjawabnya.
~-~-~
Keesokan harinya, aku bergegas
menuju ke ruang penyimpanan jenazah. Ruangan itu lebih pantas disebut freezer.
Semua mayat yang belum selesai diperiksa, diawetkan dengan cara dibekukan. Saat
aku masuk dengan perlengkapan kerjaku, aku melihat Seungyoon dan kepala
forensik sedang mengamati mayat.
“Oh, (y/n)-ssi! Selamat pagi.. rajin sekali sudah datang
sepagi ini?” ucap kepala forensik tersenyum.
“Hahaha.. ya begitulah. Seosangnim, bagaimana hasilnya?”
tanyaku mendekat pada mayat. Kepala forensik menatap Seungyoon.
“Kami sudah memeriksa kondisi eksternal dan internal mayat
lebih lanjut. Diperkirakan mayat ini tewas 4-5 jam sebelum ditemukan. Benar
seperti apa yang kau dan Haerin temukan kemarin. Korban memang keracunan
arsenik. Fisiknya menunjukkan ciri-ciri keracunan arsenik. Sistem pencernaan
korban juga terlihat sudah rusak. Sepertinya ini karena dampak arsenik.
Terdapat kandungan obat penenang dalam pencernaannya tetapi dosisnya normal. Itu
berarti, korban tak mungkin keracunan obat penenang. Dan coba kau perhatikan philtrumnya.
Itu agak masuk. Mukosa bibirnya terjepit gigi seri. Sepertinya korban menahan
mual yang dideritanya sehingga ia menggigit bibir atasnya..” jelas Seungyoon
panjang lebar. Kepala forensik mengangguk tanda setuju. Aku teringat akan
detektif itu.
“Seosangnim, ijinkan aku pergi ke TKP. Ada sesuatu yang
harus aku selidki..” ijinku. Kepala forensik mengangguk dan tersenyum.
“Gamsahamnida, seosangnim!” aku membungkuk dan bergegas mengambil apa yang
kubutuhkan, kemudian pergi ke TKP.
~-~-
Sesampainya di sana, aku langsung
melihat (yb)-ssi sedang berdiri mengamati sebuah berkas. Sepertinya ia tengah
memecahkan sesuatu.
“Cheogi, (yb)-ssi..” panggilku. Ia mendongak dan tersenyum
.
“Ah, pagi, (y/n)-ssi..” sapanya ramah. Darimana dia tahu
namaku? Seakan mengerti raut wajahku, ia menunjuk name tag yang tersemat di jas
sebelah kananku. Aku terkekeh.
“Bagaimana hasilnya? Kau menemukan sesuatu?” tanyaku
mengintip berkas itu. (yb) mengangguk.
“Aku dan pihak kepolisian sudah memeriksa ketiga saksi.
Sekertaris, istri, dan cleaning service itu. Tapi ada yang ganjil.” Ucapnya
mengernyit. “Sekertaris itu berkata ia meninggalkan kantor sesuai dengan jam
pulangnya, yaitu pukul 8 malam. Karena katanya, korban memang ingin lembur
sendirian. Pukul 10, istri korban mengirimkan pesan, bertanya mengapa suaminya
tak pulang. Korban menjawab bahwa ia harus lembur. Istrinya mengatakan ia sudah
menitipkan obat untuk sakit jantung korban pada cleaning service. Cleaning
service itu mengatakan bahwa pada pukul 11, ia masuk ke ruangan korban untuk
mengantarkan obat penenang tersebut, segelas air, dan sepiring garlic bread.
Katanya ia khawatir bossnya itu akan sakit. Kemudian ia pulang. Dan saat pukul
6 pagi ia kembali, bossnya sudah meninggal dalam keadaan yang ditemukan
kemarin.” jelas (yb) panjang lebar.
“Soal kunci? Bukankah cleaning service itu bilang saat ia
hendak masuk, pintunya terkunci?” tanyaku spontan.
“Nah. Itu kuncinya. Ini agak aneh. Coba kau pikir. Kalau
seseorang melihat ada mayat lalu terkejut, seharusnya, minimal pikirannya fokus
pada mayat, dan tidak sempat mencabut kunci ruangan. Ia juga berkata, selisih
waktu dari ia menemukan mayat dan menelepon detektif adalah 2 menit. Bukankah
ini aneh?” tanya (yb) mengernyit. Aku berpikir ulang.
“Benar juga. Saat kau datang, seharusnya kunci masih
tergantung karena ia cemas dan panik. Kurasa kau sudah bisa menyimpulkan
tersangkanya kan?” tanyaku tersenyum pada (yb). (yb) mengangguk.
“Gomawo, (y/n)-ssi.. kau sudah banyak membantu. Ini adalah
rekor kasus paling cepat yang pernah kutangani..” (yb) balas tersenyum. Namja
ini tampan juga, pikirku.
~-~-
Siang hari itu, perusahaan yang
cukup besar yang menjadi TKP, dipenuhi oleh orang-orang yang bekerja di situ
serta beberapa pihak keamanan.
“Terima kasih kalian sudah menyempatkan diri untuk datang di
hari cuti kalian. Aku (your bias true name), detektif yang mengusut kasus ini. Kami
semua telah menemukan siapa tersangkanya. Saksi tolong maju ke depan..” ucap (yb).
Sekertaris, istri CEO, dan cleaning service itu maju.
“Pertama-tama, kami dari pihak forensik dan toxicology, akan
memaparkan apa yang telah kami periksa. Tim forensik telah memeriksa mayat CEO
perusahaan ini, tuan Hwang Song Bin. Diperkirakan mayat ini tewas 4-5 jam
sebelum ditemukan. Korban keracunan arsenik. Fisiknya menunjukkan ciri-ciri
keracunan arsenik, seperti munculnya melanosi
arsenik dan mee’s line. Sistem
pencernaan korban juga terlihat sudah rusak. Sepertinya ini karena dampak
arsenik. Terdapat kandungan obat penenang dalam pencernaannya tetapi dosisnya
normal. Itu berarti, korban tak mungkin keracunan obat penenang. Dan philtrum
korban agak masuk. Mukosa bibirnya terjepit gigi seri. Sepertinya korban
menahan mual yang dideritanya sehingga ia menggigit bibir atasnya..” jelasku
membaca laporan yang dibuat sehari sebelumnya.
“Tim toxicology telah memeriksa bukti yang terdapat di TKP,
yaitu garlic bread dan air dalam gelas. Hasilnya, air dalam gelas tersebut
aman. Namun garlic bread tersebut mengandung arsenik dosis tinggi yang sangat
mungkin menyebabkan korban mengalami rasa mual yang teramat sakit, pusing, kram
perut, shock, dan akhirnya meninggal.” ucap Seungyoon mewakili tim toxicology.
Hadirin di sana tampak mulai saling berbisik. Mendiskusikan siapa pelakunya.
“Dari hasil pemeriksaan tim forensik dan toxicology, dan
juga dari hasil olah TKP, kami dapat menarik kesimpulan bahwa pelakunya
adalah…” semua orang di sana memasang wajah tegang. Saksi juga memasang wajah
yang sama. Seakan hidup dan mati mereka ditentukan oleh apa yang akan (yb)
katakan setelah ini.
.
.
“Pelakunya adalah cleaning service, Bae Dong Sik.” ucap (yb).
Semua melirik Dongsik dengan pandangan tak percaya.
“Bagaimana bisa? Bukankah kau salah satu kepercayaan Hwang
sajangnim?” tanya sekertaris itu masih shock.
“Kau berbohong soal menemukan pintu dalam keadaan terkunci.
Kau meracuni garlic bread itu, karena kau tahu bahwa saat arsenik dipanaskan,
arsenik akan menghasilkan bau seperti bawang putih. Lalu sebaiknya, kau pakai
logikamu. Seseorang yang mual akan refleks berlari menuju toilet untuk muntah.
Toilet di dalam ruangan beliau, terletak sekitar 1 meter dari pintu keluar dan
1.5 meter dari meja kerja beliau. Jika memang ini tak sengaja, mana mungkin
orang yang mual hanya akan duduk diam? Orang yang shock pasti akan terjatuh.
Itulah sebabnya kau memindahkan mayat itu dari tempat ia terjatuh ke meja
kerjanya. Seolah ia terkena semacam serangan jantung saat ia tidur.
Dan lagi. Kau bilang kau menemukannya pukul 6 pagi tadi,
saat kau baru datang. Setelah membuka kunci pintu, kau menemukan mayat
tersebut. Kau bilang juga jangka waktu dari kau menemukan mayat CEO tersebut
sampai kau meneleponku adalah 2 menit. Mana mungkin kau turun ke pantry di
lantai 2 dalam waktu 2 menit, sedangkan ruangan CEO berada di lantai 5. Orang
panik tak mungkin pakai lift. Dan seharusnya, kalau kau memang menemukannya
secara tak sengaja, kau takkan ingat untuk mencabut kunci ruangan karena kau
panik. Apa kami benar, BaeDong Sik?” tanya (yb) dengan nada sarkastis.
Sementara Dongsik, namja berseragam cleaning service itu, tersenyum kecil.
“Nampaknya aku memang tertangkap basah. Tapi orang itu
pantas mendapatnya. Ia memecatku hanya karena lupa membawakannya kopi kemarin
pagi. Konyol sekali. Dia yang tidak punya logika!” ucap Dongsik kesal. Istri
CEO itu menangis histeris. Sekertarisnya hanya menggeleng tak percaya.
~-~-~
“Hah.. kasus ini selesai juga..” ucapku lega.
“Kau mau garlic bread?” tanya (yb) padaku. Aku menatapnya
bingung.
“Tidak mengandung arsenik kan?” tanyaku polos. (yb) tertawa
kecil.
“Jangan gila. Aku masih waras, (y/n)-ah..” ucapnya
tersenyum. Aku mengambil satu potong garlic bread dari lunch box (yb). Kemudian
mengunyahnya lamat-lamat. “(y/n)-ah..” panggil (yb) membuatku menengok. Sedetik
kemudian, aku sudah ada dalam pelukannya.
“Ehm.. (yb)-ssi.. ini-“ . “Gomawo sudah banyak membantuku.
Aku sangat berterima kasih. Dan aku mengagumi kerjamu. Aku menyukaimu bahkan
pada saat kita pertama kali saling berpandangan. Kurasa ini terlalu cepat,
tapi.. maukah kau jadi yeoja-chingu ku?” tanyanya membuatku nyaris tak
berkedip. Ia melepas pelukannya dan mendaratkan kedua tangannya di atas
pundakku. Aku memang mengaguminya juga. Dan well.. dia tampan, pintar, cerdik,
dan teliti. Aku menyukainya. Aku mengangguk.
“Tentu saja, siapa yang tak ingin-“ kali ini kata-kataku
terpotong lagi. Bibir (yb) membungkam mulutku. Aku bahkan tidak bisa memastikan
kalau mataku tidak membesar dan membulat sempurna. Ia melepas kecupan itu dan
tersenyum.
“Aku tidak suka kau berbicara hal yang tidak penting seperti
itu. Aku hanya bertanya mau dan tidak. Tak perlu penjelasan. Jadi, ucapkan kata
dengan secukupnya saat bersamaku. Kecuali jika aku minta penjelasan. Arra? Atau
kau akan meenerima hal semacam tadi lagi.. atau bahkan mungkin bisa lebih..”
ucapnya dengan bisikan di kalimat terakhirnya. Jelas aku merinding. Namja ini
benar-benar. Tapi aku hanya mengangguk dan tersenyum kemudian menikmati garlic
bread bersama (yb).
Siapa sangka? Garlic bread ternyata menyatukan dua orang
yang bahkan tidak saling mengenal.
THE
END