Thursday, 31 July 2014

[Imagine] Garlic Breads

Title : Garlic Breads
Author : himawarigurl21
Cast(s) : (y/n) as you, Your bias as (yb), some OC(s)
Genre : detective story, romance
Disclaimer : the plot is originally mine. I don’t own the cast. It’s 1st POV! Happy reading~^^ 


###

“All start from a plate of garlic breads.”
~-~-~
“Akhirnya kita bernafas juga walau untuk sehari..” ucapan dari teman yang duduk di sebelahku itu membuatku tersenyum setuju. Ya benar. Akhir-akhir ini, kami sedang banyak pekerjaan. Bekerja di bagian forensik membuatku lelah. Kami harus bercokol dengan tubuh manusia-manusia yang menemui ajal mereka dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mati dibunuh, bunuh diri, bahkan sampai dimutilasi. Memang mengerikan, tapi inilah profesiku. Dan tentu saja, aku menyukainya. Jangan konyol, untuk apa aku bersekolah dengan susah payah, lalu kini membenci apa yang sudah kucita-citakan sejak dulu?

“Setidaknya begitu. Tapi kita belum tahu apa-“ . “Kasus baru!” kata-kata temanku itu menggantung begitu saja setelah kepala forensik masuk ke ruangan kami sambil membawa berkas-berkas. Semua kompak menghela nafas. Menyesal karena berpikir bahwa ini hari tenang kami.

“Sesosok mayat lelaki ditemukan di ruang CEO Specta Corp. dalam keadaan terduduk dan kepala di atas meja. Tim detektif baru saja sampai di sana. Aku mau (y/n), Haerin, dan Seungyoon ke TKP sekarang..” lanjut kepala forensik tanpa jeda sedikitpun. Aku lantas terbelalak. Setelah kepala forensik meninggalkan ruangan, aku dan kedua temanku mengikuti beliau. Setelah membawa tas berisi jas lab, sarung tangan karet, dan beberapa alat-alat, aku pergi menuju van lembaga kami.
~-~-~
Van kami berhenti di depan sebuah gedung bertingkat yang megah. Kami masuk melewati garis polisi yang sudah dipasang. Langkah kami bergema. Koridor itu benar-benar sepi. Sepertinya tidak ada yang bekerja di gedung ini sama sekali. Pintu kayu berwarna maroon terbuka cukup lebar. Terlihat beberapa orang tengah berjongkok di hadapan sesosok mayat. Seorang pria tua. Jas biru tua yang membalutnya benar-benar masih rapi. Aku langsung berasumsi kalau pria itu tidak mati karena tindak kekerasan. Tak ada luka sama sekali. Tetapi terdapat beberapa bercak-bercak coklat. Aku mengenakan masker, sarung tangan karet, dan kacamata khusus, kemudian bergabung dengan tim forensik dan polisi.

“Tak ada barang bukti di sini. Tak ada barang bukti yang memungkinan korban menerima tindak kekerasan untuk menemui ajalnya. Asumsi sementara kami, dia bunuh diri atau diracuni..” ucap kepala polisi kepada seorang detektif berbalut jas coklat yang tengah mengerutkan keningnya. Keracunan? Tapi tak ada aroma khas yang tercium walau jarakku dan mayat itu kurang dari 10 cm.

“Apa ada saksi?” tanya detektif itu dengan wajah yang masih serius.

“Dalam 2 jam sebelum kematian korban, korban hanya berinteraksi dengan 2 orang. Sekertarisnya dan istrinya. Mayatnya ditemukan oleh seorang cleaning service tadi pagi sekitar pukul 6. Pintunya terkunci. Cleaning service itu yang biasanya memegang kunci.” ucap kepala polisi itu membaca catatan kecil di tangannya. Aku memeriksa mayat itu sekilas. Belum ada bau busuk sama sekali. Mayat akan mulai membusuk setelah 8 jam kematian. Itu berarti beliau dibunuh kurang dari 8 jam yang lalu.

“Panggil cleaning service itu, aku butuh keterangan darinya..” ucap detektif itu serius. Aku memperhatikan fisik mayat itu sekali lagi. Hanya terdapat pigmentasi coklat di beberapa bagian tubuhnya. Aku teringat sesuatu.

“Seungyoon, aku menemukan sesuatu..” aku memanggil Seungyoon yang tengah sibuk memeriksa bagian kaki korban. Seungyoon dan Haerin menghampiriku.

“Kau menemukan apa?” tanya Seungyoon antusias.

“Pigmentasi coklat ini. Aku ingat kalau pigmentasi coklat menjadi ciri-ciri orang yang keracunan arsenik. Kondisi ini disebut melanosis arsenik.” Ucapku menunjukkan apa yang kutemukan.

“Bicara tentang keracunan arsenik, sepertinya aku menemukan hal yang sama. Ada garis putih melintang di kuku tangan korban. Bukankah garis seperti ini yang disebut dengan mee’s line?” tanya Haerin menunjukkan apa yang ia temukan.


“Bagaimana kalau kita segera ke kantor? Aku akan memeriksanya lebih lanjut..” ucap Seungyoon merain telepon genggamnya untuk menghubungi kepala forensik.


“Cheogi, neo..” panggilan itu membuatku berbalik dan menujuk diri sendiri. Detektif itu mengangguk. Aku menghampirinya. “Bisakah aku minta tolong untuk memeriksa garlic bread di piring itu dan air dalam mug itu juga? Siapa tahu mengandung racun arsenik seperti katamu..” ucap detektif itu sopan. Aku mengangguk dan tersenyum. Seungyoon mengamankan garlic bread dan air dalam mug itu. Tak lama berselang, van yang tadi membawa kami telah tiba. Aku membereskan barang-barangku.


“Cheogi, aku harus kembali ke kantor forensik. Gamsahamnida untuk kerjasamanya..” ucapku membungkuk pada detektif itu.


“Nado gamsahamnida. (yb) imnida, jangan panggil aku cheogi..” ucap detektif bernama (yb) itu terkekeh kecil. Aku ikut terkekeh.


“Mianhamnida, (yb)-ssi. Aku permisi dulu..” aku melangkah keluar ruangan.


“Cheogi, namamu siapa?” teriakan itu terdengar dari dalam. Aku tak mungkin masuk untuk menjawabnya. Akupun berjalan ke van dengan rasa bersalah. Mungkin lain kali aku akan menjawabnya.

~-~-~
Keesokan harinya, aku bergegas menuju ke ruang penyimpanan jenazah. Ruangan itu lebih pantas disebut freezer. Semua mayat yang belum selesai diperiksa, diawetkan dengan cara dibekukan. Saat aku masuk dengan perlengkapan kerjaku, aku melihat Seungyoon dan kepala forensik sedang mengamati mayat.


“Oh, (y/n)-ssi! Selamat pagi.. rajin sekali sudah datang sepagi ini?” ucap kepala forensik tersenyum.


“Hahaha.. ya begitulah. Seosangnim, bagaimana hasilnya?” tanyaku mendekat pada mayat. Kepala forensik menatap Seungyoon.


“Kami sudah memeriksa kondisi eksternal dan internal mayat lebih lanjut. Diperkirakan mayat ini tewas 4-5 jam sebelum ditemukan. Benar seperti apa yang kau dan Haerin temukan kemarin. Korban memang keracunan arsenik. Fisiknya menunjukkan ciri-ciri keracunan arsenik. Sistem pencernaan korban juga terlihat sudah rusak. Sepertinya ini karena dampak arsenik. Terdapat kandungan obat penenang dalam pencernaannya tetapi dosisnya normal. Itu berarti, korban tak mungkin keracunan obat penenang. Dan coba kau perhatikan philtrumnya. Itu agak masuk. Mukosa bibirnya terjepit gigi seri. Sepertinya korban menahan mual yang dideritanya sehingga ia menggigit bibir atasnya..” jelas Seungyoon panjang lebar. Kepala forensik mengangguk tanda setuju. Aku teringat akan detektif itu.


“Seosangnim, ijinkan aku pergi ke TKP. Ada sesuatu yang harus aku selidki..” ijinku. Kepala forensik mengangguk dan tersenyum. “Gamsahamnida, seosangnim!” aku membungkuk dan bergegas mengambil apa yang kubutuhkan, kemudian pergi ke TKP.


~-~-
Sesampainya di sana, aku langsung melihat (yb)-ssi sedang berdiri mengamati sebuah berkas. Sepertinya ia tengah memecahkan sesuatu.


“Cheogi, (yb)-ssi..” panggilku. Ia mendongak dan tersenyum

.
“Ah, pagi, (y/n)-ssi..” sapanya ramah. Darimana dia tahu namaku? Seakan mengerti raut wajahku, ia menunjuk name tag yang tersemat di jas sebelah kananku. Aku terkekeh.


“Bagaimana hasilnya? Kau menemukan sesuatu?” tanyaku mengintip berkas itu. (yb) mengangguk.


“Aku dan pihak kepolisian sudah memeriksa ketiga saksi. Sekertaris, istri, dan cleaning service itu. Tapi ada yang ganjil.” Ucapnya mengernyit. “Sekertaris itu berkata ia meninggalkan kantor sesuai dengan jam pulangnya, yaitu pukul 8 malam. Karena katanya, korban memang ingin lembur sendirian. Pukul 10, istri korban mengirimkan pesan, bertanya mengapa suaminya tak pulang. Korban menjawab bahwa ia harus lembur. Istrinya mengatakan ia sudah menitipkan obat untuk sakit jantung korban pada cleaning service. Cleaning service itu mengatakan bahwa pada pukul 11, ia masuk ke ruangan korban untuk mengantarkan obat penenang tersebut, segelas air, dan sepiring garlic bread. Katanya ia khawatir bossnya itu akan sakit. Kemudian ia pulang. Dan saat pukul 6 pagi ia kembali, bossnya sudah meninggal dalam keadaan yang ditemukan kemarin.” jelas (yb) panjang lebar.


“Soal kunci? Bukankah cleaning service itu bilang saat ia hendak masuk, pintunya terkunci?” tanyaku spontan.


“Nah. Itu kuncinya. Ini agak aneh. Coba kau pikir. Kalau seseorang melihat ada mayat lalu terkejut, seharusnya, minimal pikirannya fokus pada mayat, dan tidak sempat mencabut kunci ruangan. Ia juga berkata, selisih waktu dari ia menemukan mayat dan menelepon detektif adalah 2 menit. Bukankah ini aneh?” tanya (yb) mengernyit. Aku berpikir ulang.


“Benar juga. Saat kau datang, seharusnya kunci masih tergantung karena ia cemas dan panik. Kurasa kau sudah bisa menyimpulkan tersangkanya kan?” tanyaku tersenyum pada (yb). (yb) mengangguk.


“Gomawo, (y/n)-ssi.. kau sudah banyak membantu. Ini adalah rekor kasus paling cepat yang pernah kutangani..” (yb) balas tersenyum. Namja ini tampan juga, pikirku.

~-~-
Siang hari itu, perusahaan yang cukup besar yang menjadi TKP, dipenuhi oleh orang-orang yang bekerja di situ serta beberapa pihak keamanan.


“Terima kasih kalian sudah menyempatkan diri untuk datang di hari cuti kalian. Aku (your bias true name), detektif yang mengusut kasus ini. Kami semua telah menemukan siapa tersangkanya. Saksi tolong maju ke depan..” ucap (yb). Sekertaris, istri CEO, dan cleaning service itu maju.


“Pertama-tama, kami dari pihak forensik dan toxicology, akan memaparkan apa yang telah kami periksa. Tim forensik telah memeriksa mayat CEO perusahaan ini, tuan Hwang Song Bin. Diperkirakan mayat ini tewas 4-5 jam sebelum ditemukan. Korban keracunan arsenik. Fisiknya menunjukkan ciri-ciri keracunan arsenik, seperti munculnya melanosi arsenik dan mee’s line. Sistem pencernaan korban juga terlihat sudah rusak. Sepertinya ini karena dampak arsenik. Terdapat kandungan obat penenang dalam pencernaannya tetapi dosisnya normal. Itu berarti, korban tak mungkin keracunan obat penenang. Dan philtrum korban agak masuk. Mukosa bibirnya terjepit gigi seri. Sepertinya korban menahan mual yang dideritanya sehingga ia menggigit bibir atasnya..” jelasku membaca laporan yang dibuat sehari sebelumnya.


“Tim toxicology telah memeriksa bukti yang terdapat di TKP, yaitu garlic bread dan air dalam gelas. Hasilnya, air dalam gelas tersebut aman. Namun garlic bread tersebut mengandung arsenik dosis tinggi yang sangat mungkin menyebabkan korban mengalami rasa mual yang teramat sakit, pusing, kram perut, shock, dan akhirnya meninggal.” ucap Seungyoon mewakili tim toxicology. Hadirin di sana tampak mulai saling berbisik. Mendiskusikan siapa pelakunya.


“Dari hasil pemeriksaan tim forensik dan toxicology, dan juga dari hasil olah TKP, kami dapat menarik kesimpulan bahwa pelakunya adalah…” semua orang di sana memasang wajah tegang. Saksi juga memasang wajah yang sama. Seakan hidup dan mati mereka ditentukan oleh apa yang akan (yb) katakan setelah ini.
.
.

“Pelakunya adalah cleaning service, Bae Dong Sik.” ucap (yb). Semua melirik Dongsik dengan pandangan tak percaya.


“Bagaimana bisa? Bukankah kau salah satu kepercayaan Hwang sajangnim?” tanya sekertaris itu masih shock.


“Kau berbohong soal menemukan pintu dalam keadaan terkunci. Kau meracuni garlic bread itu, karena kau tahu bahwa saat arsenik dipanaskan, arsenik akan menghasilkan bau seperti bawang putih. Lalu sebaiknya, kau pakai logikamu. Seseorang yang mual akan refleks berlari menuju toilet untuk muntah. Toilet di dalam ruangan beliau, terletak sekitar 1 meter dari pintu keluar dan 1.5 meter dari meja kerja beliau. Jika memang ini tak sengaja, mana mungkin orang yang mual hanya akan duduk diam? Orang yang shock pasti akan terjatuh. Itulah sebabnya kau memindahkan mayat itu dari tempat ia terjatuh ke meja kerjanya. Seolah ia terkena semacam serangan jantung saat ia tidur.

Dan lagi. Kau bilang kau menemukannya pukul 6 pagi tadi, saat kau baru datang. Setelah membuka kunci pintu, kau menemukan mayat tersebut. Kau bilang juga jangka waktu dari kau menemukan mayat CEO tersebut sampai kau meneleponku adalah 2 menit. Mana mungkin kau turun ke pantry di lantai 2 dalam waktu 2 menit, sedangkan ruangan CEO berada di lantai 5. Orang panik tak mungkin pakai lift. Dan seharusnya, kalau kau memang menemukannya secara tak sengaja, kau takkan ingat untuk mencabut kunci ruangan karena kau panik. Apa kami benar, BaeDong Sik?” tanya (yb) dengan nada sarkastis. Sementara Dongsik, namja berseragam cleaning service itu, tersenyum kecil.


“Nampaknya aku memang tertangkap basah. Tapi orang itu pantas mendapatnya. Ia memecatku hanya karena lupa membawakannya kopi kemarin pagi. Konyol sekali. Dia yang tidak punya logika!” ucap Dongsik kesal. Istri CEO itu menangis histeris. Sekertarisnya hanya menggeleng tak percaya.

~-~-~

“Hah.. kasus ini selesai juga..” ucapku lega.


“Kau mau garlic bread?” tanya (yb) padaku. Aku menatapnya bingung.


“Tidak mengandung arsenik kan?” tanyaku polos. (yb) tertawa kecil.


“Jangan gila. Aku masih waras, (y/n)-ah..” ucapnya tersenyum. Aku mengambil satu potong garlic bread dari lunch box (yb). Kemudian mengunyahnya lamat-lamat. “(y/n)-ah..” panggil (yb) membuatku menengok. Sedetik kemudian, aku sudah ada dalam pelukannya.


“Ehm.. (yb)-ssi.. ini-“ . “Gomawo sudah banyak membantuku. Aku sangat berterima kasih. Dan aku mengagumi kerjamu. Aku menyukaimu bahkan pada saat kita pertama kali saling berpandangan. Kurasa ini terlalu cepat, tapi.. maukah kau jadi yeoja-chingu ku?” tanyanya membuatku nyaris tak berkedip. Ia melepas pelukannya dan mendaratkan kedua tangannya di atas pundakku. Aku memang mengaguminya juga. Dan well.. dia tampan, pintar, cerdik, dan teliti. Aku menyukainya. Aku mengangguk.


“Tentu saja, siapa yang tak ingin-“ kali ini kata-kataku terpotong lagi. Bibir (yb) membungkam mulutku. Aku bahkan tidak bisa memastikan kalau mataku tidak membesar dan membulat sempurna. Ia melepas kecupan itu dan tersenyum.


“Aku tidak suka kau berbicara hal yang tidak penting seperti itu. Aku hanya bertanya mau dan tidak. Tak perlu penjelasan. Jadi, ucapkan kata dengan secukupnya saat bersamaku. Kecuali jika aku minta penjelasan. Arra? Atau kau akan meenerima hal semacam tadi lagi.. atau bahkan mungkin bisa lebih..” ucapnya dengan bisikan di kalimat terakhirnya. Jelas aku merinding. Namja ini benar-benar. Tapi aku hanya mengangguk dan tersenyum kemudian menikmati garlic bread bersama (yb).


Siapa sangka? Garlic bread ternyata menyatukan dua orang yang bahkan tidak saling mengenal.



THE END

[Imagine] Rabbits and The Rain



Rabbits & The Rain

An imagine by himawarigurl21
Cast(s) : you as (y/n), your bias as (yb), etc.
Genre : romance, school life
Rating : T
Length : ficlet.
Disclaimer : i own nothing in this imagine except the plot. Inspired by one of my live wallpaper(?). 3rd POV Enjoy reading! ^^
≈≈
"Cause rain isn't that bad."

≈≈

"Ahh selesai~" ucapmu lega setelah menuangkan makanan ke tempat makan di salah satu kandang kelinci. Kau bekerja di salah satu pet shop dekat rumahmu. Ya hanya untuk kerja sambilan saat kau libur. Selain kau memang penyayang binatang, kau juga melakukan ini agar kau punya penghasilan sendiri yang upahnya bisa menjadi uang sakumu pribadi.

"(y/n)-ssi, kau sudah selesai?" tanya seorang ahjussi dengan kacamata yang melorot sampai ke dekat ujung hidung. Ahjussi itu adalah pemilik pet shop ini. Beliau adalah orang yang sudah kau anggap sebagai pamanmu sendiri karena dia dekat denganmu.

"Ne, ahjussi.. aku baru saja selesai.." ucapmu tersenyum. Kau membenahi kandang kelinci itu sekali lagi.

"Baguslah.. setelah ini, kau makan siang dulu. Kau menunda makan siangmu demi kelinci-kelinci itu.." kata ahjussi itu dengan nada khawatir seperti seorang ayah yang tahu bahwa anaknya belum makan.

"Ne ahjussi.. sebentar lagi aku akan istirahat.." ucapmu tersenyum lembut. Memaklumi sikap ahjussi itu. Mengingat ia sangat menginginkan seorang putri. Namun apa daya, Sang Maha Kuasa menghendaki beliau memiliki dua orang putra yang kini bersekolah di luar negeri.

Tak lama setelah ahjussi kembali ke ruang kerjanya, terdengar suara lonceng. Lonceng yang dipasang di dekat pintu masuk itu berbunyi bila ada yang membuka pintu. Kau lantas menengok. Mendapati seorang namja tengah menggendong seekor anjing kecil berjenis Pommerian mendekat ke meja kasir. Kau berjalan ke kasir.

"Annyeonghaseyo, ada yang bisa saya bantu?" tanyamu formal pada namja itu. Alih-alih mendengar jawaban namja itu, kau mendapati sepasang mata coklat tua milik namja itu tengah menatapmu lekat-lekat.

"Ehmm.. aku ingin melakukan grooming dan berbelanja beberapa dog food untuk anjingku ini.." kata namja itu tersenyum canggung. Ia mengelus kepala anjing dalam pelukannya. Kau tersenyum lembut melihat betapa namja itu sangat menyayangi peliharaannya.

"Baiklah.. chamkamman.." ucapmu menggendong anjing kecil milik namja itu ke bagian grooming. Kemudian kembali lagi untuk melayani namja itu. "Dog food jenis apa yang anda cari, tuan?" tanyamu sambil berjalan pelan ke rak dimana dog food disimpan. Namja itu mengikutimu.

"Ehmm.. kurasa yang mengandung hati sapi..dan tolong jangan panggil aku dengan sebutan 'tuan'. Oh Se Hun imnida.." ucap namja itu dengan nada ramah setengah protes. Kau tersenyum dan menatapnya.

"Mianhamnida, (yb)-ssi.." ucapmu lalu membungkuk. Kau mulai mencari dog food yang diinginkan oleh (yb).

"Kau terlihat sangat lihai dan tangkas. Sepertinya kau sudah cukup lama bekerja di sini ne, (y/n)-ssi?" tanya (yb) membuat aktifitas memilahmu berhenti sejenak. Dari mana ia tahu namamu? Kau nyaris akan bertanya, ketika sadar bahwa nametag berukir namamu tersemat di sebelah kanan atas apronmu.

"Ah ya.. begitulah. Aku menyukai binatang. Dan aku berusaha memperlakukan mereka sebagai sahabat. Jadi kalau sahabatku lapar, tak mungkin aku menunda untuk memberinya makan karena tak tahu makanan yang cocok untuknya.." jelasmu dengan nada ramah. (yb) mengangguk dan tersenyum kecil. Kau melihat senyumnya. Walau hanya senyum kecil, itu senyum yang menghangatkan. Sebelum pipimu bersemu di depannya-yang notabenenya adalah konsumenmu-, kau menyerahkan dog food itu padanya. "(yb)-ssi, ini dog foodnya. Dan grooming akan selesai sekitar 2 jam lagi.." ucapmu berusaha senormal mungkin. Kau menggiringnya ke meja kasir.

"Gomawo, (y/n)-ssi.. aku akan kembali untuk mengambil Danchoo nanti.." katanya tersenyum lagi. Ia menyodorkan uangnya. Baru kau akan memberinya kembalian, (yb) sudah pergi.

"Ah jinjja otte? Dia akan kembali bukan? Aku berikan nanti saja.." ucapmu pelan. Kau menaruh kembalian itu di mesin kasir. Lalu kau pergi ke pantry kecil di pet shop itu. Menyantap makan siangmu yang sedari tadi tertunda.

≈≈

Dua jam kemudian, kau mengeringkan Danchoo dengan handuk sambil menunggu (yb) datang. Tak lama, majikan Danchoo datang. Ia tersenyum melihatmu tengah menggendong Danchoo. Namja itu memakai pakaian yang berbeda. Saat datang tadi, ia hanya menggunakan kaus putih polos dengan celana panjang biru dan sneakers hitam. Kini ia terlihat lebih santai. Dengan sweater biru dengan celana khaki selutut dan sneakers putih yang membuatnya terlihat lebih cerah.

"(yb)-ssi, ini Danchoo. Dia anjing yang sangat baik dan lucu." komentarmu sambil menyerahkan Danchoo pada (yb). Namja itu terkekeh kecil.

"Gomawo sudah merawatnya dengan baik selama 2 jam ini, (y/n)-ssi.." katanya tersenyum padamu. Senyum yang jauh lebih hangat. Jauh lebih manis. Dan.. jauh lebih mendesak semburat merah di pipimu untuk muncul.

"Oh ya, kembalianmu untuk dog food dan grooming.." ucapmu menyerahkan kembalian itu pada (yb). (yb) menggeleng pelan.

"Ambil saja kembaliannya untukmu.." ucapnya pelan namun pasti. "Aku pulang dulu ne, (y/n)-ssi.. sampai jumpa.." katanya tersenyum.

"Annyeong, (yb)-ssi.. kembali lagi lain kali.." kataku membungkuk. Sampai jumpa? Dia akan ke sini? Syukurlah. Pet shop ini akan punya pelanggan tetap, pikirmu.

≈≈

Esok paginya, kau terbangun karena suara ponselmu yang berdering singkat. Ada pesan masuk. Pesan itu dari ahjussi di pet shop. Katanya kau harus datang ke pet shop 1 jam lebih awal. Ada pekerja baru. Kau menghela nafas lalu bersiap-siap pergi ke pet shop.

≈≈

"(Y/n)-ssi, pekerja baru itu akan tiba 15 menit lagi.." kata ahjussi menenangkanmu yang sedari tadi tampak gelisah menunggu pekerja baru itu. Ya, siapa yang tak kesal kalau sedang tidur, lalu harus bangun karena harus datang bekerja 1 jam lebih awal akibat ada pekerja baru. Dan kini? Pekerja baru itu bahkan terlambat pada hari perdananya! Suara ketukan pintu ruangan ahjussi bergema. Tak lama sosok namja muncul di balik pintu. Kau terbelalak.

"Se.. (yb)-ssi?!" ucapmu terkejut.

"Annyeonghaseyo, (y-n)-ssi.. ahjussi.." ucap (yb) membungkuk penuh.

"Kalian sudah saling kenal? Baguslah.. silahkan mulai bekerja. Semoga kau menyukai pekerjaan ini, (yb)-ssi.." ucap ahjussi tersenyum lalu kau dan (yb) berjalan keluar ruangan ahjussi.

"Bagaimana bisa.. kau kemarin.." ucapmu terlalu terkejut sampai tak mampu menyelesaikan kalimatmu.

"Songsaenim, kapan aku bisa mulai pelatihan?" tanya (yb) dengan nada polos. Membuatmu ingin menepuk dahimu sekeras mungkin.

"Cukup panggil aku (y/n). Jangan panggil songsaenim, aku tidak setua itu.." ucapmu santai kemudian berjalan ke rak-rak aksesoris anjing dan kucing dengan (yb) yang mengekorimu. Kekehan namja itu terdengar samar di telingamu. Ah.. jinjja..

≈≈

"Ini adalah kandang kelinci yang masih kecil. Kau tak boleh keliru memberikan makanan pada mereka. Bayi kelinci tak boleh diberi pet food di sana.." ucapmu menunjuk toples di ujung rak. "Kau harus memberi makan mereka dengan pet food yang ini.." ucapmu berusaha meraih toples berisi pet food di atas kepalamu. Sialnya, toples itu tergelincir dan menghantam kepalamu mentah-mentah. Kau mengusap kepalamu berulang-ulang. Rasa sakit tertimpa pet food 2kg baru saja merayapi kepalamu. Lalu kau merasa ada tangan lain yang mengusap kepalamu.

"Gwenchanayo? Mengapa bisa jatuh?" suara (yb) bergema di telingamu. Kau menatap tangan (yb) yang tengah mengusap kepalamu. Seketika, canggung datang menghampiri.

"Aniyo.. tanganku basah tadi.. mari kita lanjutkan.." katamu menyingkirkan tangan (yb) pelan. (yb) tersenyum jahil.

"Kau gugup ya? Karena ada aku?" tanyanya percaya diri. Kau mendengus pelan dan meninggalkannya. Walau tak bisa dipungkiri, bahwa hal itu 100% benar!

"Ini rak tempat aksesoris seperti tali kekang dan sepatu khusus anjing dan kucing. Semuanya ada di atas toples kaca itu.." tuturmu menunjuk toples kaca di atas rak.

"Di toples itu? Ahh kyeowoo~ ukurannya sangat kecil. Benar-benar lucu.." komentar (yb) tersenyum lembut. Namun, ia tak sengaja menyenggol rak itu. Menyebabkan toples kaca itu tergelincir. Kau sudah menutup matamu. Pasrah menerima kenyataan bahwa kepalamu akan terkena pecahan kaca. Namun, alih-alih merasakan sakitnya tertusuk pecahan kaca, kau merasakan hembusan hangat tepat di depan wajahmu. Ketika kau membuka mata, (yb) ada di sana.

Wajahnya berada beberapa centi di depan ujung hidungmu. Tangan kanannya berada di punggungmu. Dan tangan kirinya menggenggam toples kaca yang tadi nyaris mendarat bebas di atas kepalamu. Dengan keadaan seperti itu, semburat merah di pipimu jelas tak terkendali lagi. Muncullah mereka menghangatkan pipimu.

"Mianhae.. aku nyaris membahayakanmu.. gwenchana, (y/n)-ah?" tanyanya masih dengan posisi yang sama. Bagaimana bisa gwenchana kalau jarakmu dan (yb) sedekat ini? Kau bahkan bisa mendengar detak jantungmu hingga ke telinga tanpa bantuan stetoskop!

"Gwenchana.. gomawo sudah menyelamatkanku.. sungguh.. gamsahamnida.." ucapmu tertunduk. Membayangkan apa yang terjadi kalau (yb) tidak menangkap toples kaca itu tepat waktu. Dan well.. memelukmu tepat waktu juga.

"Aniya.. ini salahku.. mianhaeyo.." ucapnya menaruh toples itu di tempatnya, lalu membungkuk padamu. Kau menatapnya iba.

"Aniya.. sudahlah.. hal terpenting adalah kini tak ada yang terluka.. kajja kita lanjutkan.." ucapmu tersenyum kemudian menghela (yb) ke tempat kelinci yang tadi penjelasannya tertunda.

≈≈

Hari ini terasa lebih panjang. Tapi kini jam kerja sudah berakhir. Kau membereskan barang-barangmu dan bersiap untuk pulang. Namun sepertinya langit menghendakimu diam di pet shop karena ia menurunkan air matanya dengan deras. Kau tak membawa payung. Dan menunda pulang karena hujan adalah hal paling buruk menurutmu. Kau menghela nafas dan mengunjungi kandang kelinci. Tempat favoritmu. Di kandang itu terdapat kelinci abu-abu dan putih. Mereka sepasang. Kau tersenyum melihat mereka makan satu tempat berdua.

"Kelinci yang lucu.." ucap seseorang membuatmu berbalik. (yb) berdiri dengan dua gelas kertas di tangannya. Ia menyodorkanmu salah satu dari gelas itu. Dari aromanya, kau bisa yakin bahwa isi gelas itu adalah coklat panas. Kau menerimanya dan tersenyum.

"Gomawo (yb)-ssi.." ucapmu sambil berdiri di sebelahnya. Kau meniup cairan coklat itu perlahan. Kemudian menyesapnya sedikit.

"Lihatlah.. apa yang mereka lakukan?" kata (yb). Kau menengok ke arah kandang kelinci itu. Dua kelinci penghuni kandang tengah berdekatan. Si kelinci abu-abu tampak tengah 'mengecup' moncong si kelinci putih. Kau nyaris tersedak.

"Oh.. mereka hanya sedang bermain.." ucapmu ragu. Sangat canggung mengingat kau dan (yb) seperti sedang melihat pemandangan dua kelinci yang berciuman. Sebelum bahasan ini lebih jauh, kau memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. "Coklat ini cukup pahit.. apa ini dark chocolate?" tanyamu polos.

"Aniya.. itu 50% coklat dan 50% hazelnut. Wae? Kurang manis ya?" tanyanya ragu. Kau mengangguk ragu. (yb) menyesap coklatnya lalu mendekat padamu. Kau mundur teratur. Hingga benda keras bernama dinding menghentikan langkahmu, dan..

(yb) mengecup bibirmu. Ia berusaha menyatukan coklat dalam mulutnya dan bibirmu. Kau mengutuk dirimu sendiri. Mengapa dia bisa dengan santainya menutup mata sementara kau terkejut bukan main. Tapi lembutnya apa yang ada di bibirmu tak bisa disangkal. Lantas kau ikut terlarut dalam kecupan itu. Hingga (yb) melepasnya dan tersenyum.

"Rasa coklatnya manis kalau dipadukan dengan bibirmu.." ucapnya mengedipkan sebelah mata. Semakin membuat pipimu bersemu. "Kau tahu alasanku bekerja di sini apa? Itu karena kau. Semenjak bertemu kemarin, kau sudah punya segalanya. Wajah cantik, sifat peduli binatang, lucu, lemah lembut, dan keibuan. Aku benar-benar mendambakan yeoja seperti itu. Dan kau hadir membuatku tersenyum karena sadar kaulah yang kucari.." katanya tersenyum lembut. Ia menaruh gelas kertasnya di meja terdekat. Lalu menggenggam tanganmu lembut. "Would you be mine?" tanyanya pelan tapi pasti. Kau terkejut. Hanya dalam waktu sehari? Tapi tak bisa disangkal juga bahwa kau menyukainya. Bahkan saat ia hanya tersenyum. Kau tersenyum dan mengangguk. Ia memelukmu hangat.

"Gomawo (y/n)-ah.. saranghae. Mari kita menjadi perawat yang bersahabat dengan para hewan." katanya terkekeh. Ia berjongkok di depan kandang kelinci putih dan abu-abu tadi. "Gomawo ya, rabbit couple. Karenamu, aku jadi bisa mengungkapkan perasaanku.." katanya tersenyum polos. Aku tertawa kecil. Setidaknya aku bisa mengubah asumsiku.

Hujan tidak seburuk yang kubayangkan.

THE END