Thursday, 31 July 2014

[Imagine] Rabbits and The Rain



Rabbits & The Rain

An imagine by himawarigurl21
Cast(s) : you as (y/n), your bias as (yb), etc.
Genre : romance, school life
Rating : T
Length : ficlet.
Disclaimer : i own nothing in this imagine except the plot. Inspired by one of my live wallpaper(?). 3rd POV Enjoy reading! ^^
≈≈
"Cause rain isn't that bad."

≈≈

"Ahh selesai~" ucapmu lega setelah menuangkan makanan ke tempat makan di salah satu kandang kelinci. Kau bekerja di salah satu pet shop dekat rumahmu. Ya hanya untuk kerja sambilan saat kau libur. Selain kau memang penyayang binatang, kau juga melakukan ini agar kau punya penghasilan sendiri yang upahnya bisa menjadi uang sakumu pribadi.

"(y/n)-ssi, kau sudah selesai?" tanya seorang ahjussi dengan kacamata yang melorot sampai ke dekat ujung hidung. Ahjussi itu adalah pemilik pet shop ini. Beliau adalah orang yang sudah kau anggap sebagai pamanmu sendiri karena dia dekat denganmu.

"Ne, ahjussi.. aku baru saja selesai.." ucapmu tersenyum. Kau membenahi kandang kelinci itu sekali lagi.

"Baguslah.. setelah ini, kau makan siang dulu. Kau menunda makan siangmu demi kelinci-kelinci itu.." kata ahjussi itu dengan nada khawatir seperti seorang ayah yang tahu bahwa anaknya belum makan.

"Ne ahjussi.. sebentar lagi aku akan istirahat.." ucapmu tersenyum lembut. Memaklumi sikap ahjussi itu. Mengingat ia sangat menginginkan seorang putri. Namun apa daya, Sang Maha Kuasa menghendaki beliau memiliki dua orang putra yang kini bersekolah di luar negeri.

Tak lama setelah ahjussi kembali ke ruang kerjanya, terdengar suara lonceng. Lonceng yang dipasang di dekat pintu masuk itu berbunyi bila ada yang membuka pintu. Kau lantas menengok. Mendapati seorang namja tengah menggendong seekor anjing kecil berjenis Pommerian mendekat ke meja kasir. Kau berjalan ke kasir.

"Annyeonghaseyo, ada yang bisa saya bantu?" tanyamu formal pada namja itu. Alih-alih mendengar jawaban namja itu, kau mendapati sepasang mata coklat tua milik namja itu tengah menatapmu lekat-lekat.

"Ehmm.. aku ingin melakukan grooming dan berbelanja beberapa dog food untuk anjingku ini.." kata namja itu tersenyum canggung. Ia mengelus kepala anjing dalam pelukannya. Kau tersenyum lembut melihat betapa namja itu sangat menyayangi peliharaannya.

"Baiklah.. chamkamman.." ucapmu menggendong anjing kecil milik namja itu ke bagian grooming. Kemudian kembali lagi untuk melayani namja itu. "Dog food jenis apa yang anda cari, tuan?" tanyamu sambil berjalan pelan ke rak dimana dog food disimpan. Namja itu mengikutimu.

"Ehmm.. kurasa yang mengandung hati sapi..dan tolong jangan panggil aku dengan sebutan 'tuan'. Oh Se Hun imnida.." ucap namja itu dengan nada ramah setengah protes. Kau tersenyum dan menatapnya.

"Mianhamnida, (yb)-ssi.." ucapmu lalu membungkuk. Kau mulai mencari dog food yang diinginkan oleh (yb).

"Kau terlihat sangat lihai dan tangkas. Sepertinya kau sudah cukup lama bekerja di sini ne, (y/n)-ssi?" tanya (yb) membuat aktifitas memilahmu berhenti sejenak. Dari mana ia tahu namamu? Kau nyaris akan bertanya, ketika sadar bahwa nametag berukir namamu tersemat di sebelah kanan atas apronmu.

"Ah ya.. begitulah. Aku menyukai binatang. Dan aku berusaha memperlakukan mereka sebagai sahabat. Jadi kalau sahabatku lapar, tak mungkin aku menunda untuk memberinya makan karena tak tahu makanan yang cocok untuknya.." jelasmu dengan nada ramah. (yb) mengangguk dan tersenyum kecil. Kau melihat senyumnya. Walau hanya senyum kecil, itu senyum yang menghangatkan. Sebelum pipimu bersemu di depannya-yang notabenenya adalah konsumenmu-, kau menyerahkan dog food itu padanya. "(yb)-ssi, ini dog foodnya. Dan grooming akan selesai sekitar 2 jam lagi.." ucapmu berusaha senormal mungkin. Kau menggiringnya ke meja kasir.

"Gomawo, (y/n)-ssi.. aku akan kembali untuk mengambil Danchoo nanti.." katanya tersenyum lagi. Ia menyodorkan uangnya. Baru kau akan memberinya kembalian, (yb) sudah pergi.

"Ah jinjja otte? Dia akan kembali bukan? Aku berikan nanti saja.." ucapmu pelan. Kau menaruh kembalian itu di mesin kasir. Lalu kau pergi ke pantry kecil di pet shop itu. Menyantap makan siangmu yang sedari tadi tertunda.

≈≈

Dua jam kemudian, kau mengeringkan Danchoo dengan handuk sambil menunggu (yb) datang. Tak lama, majikan Danchoo datang. Ia tersenyum melihatmu tengah menggendong Danchoo. Namja itu memakai pakaian yang berbeda. Saat datang tadi, ia hanya menggunakan kaus putih polos dengan celana panjang biru dan sneakers hitam. Kini ia terlihat lebih santai. Dengan sweater biru dengan celana khaki selutut dan sneakers putih yang membuatnya terlihat lebih cerah.

"(yb)-ssi, ini Danchoo. Dia anjing yang sangat baik dan lucu." komentarmu sambil menyerahkan Danchoo pada (yb). Namja itu terkekeh kecil.

"Gomawo sudah merawatnya dengan baik selama 2 jam ini, (y/n)-ssi.." katanya tersenyum padamu. Senyum yang jauh lebih hangat. Jauh lebih manis. Dan.. jauh lebih mendesak semburat merah di pipimu untuk muncul.

"Oh ya, kembalianmu untuk dog food dan grooming.." ucapmu menyerahkan kembalian itu pada (yb). (yb) menggeleng pelan.

"Ambil saja kembaliannya untukmu.." ucapnya pelan namun pasti. "Aku pulang dulu ne, (y/n)-ssi.. sampai jumpa.." katanya tersenyum.

"Annyeong, (yb)-ssi.. kembali lagi lain kali.." kataku membungkuk. Sampai jumpa? Dia akan ke sini? Syukurlah. Pet shop ini akan punya pelanggan tetap, pikirmu.

≈≈

Esok paginya, kau terbangun karena suara ponselmu yang berdering singkat. Ada pesan masuk. Pesan itu dari ahjussi di pet shop. Katanya kau harus datang ke pet shop 1 jam lebih awal. Ada pekerja baru. Kau menghela nafas lalu bersiap-siap pergi ke pet shop.

≈≈

"(Y/n)-ssi, pekerja baru itu akan tiba 15 menit lagi.." kata ahjussi menenangkanmu yang sedari tadi tampak gelisah menunggu pekerja baru itu. Ya, siapa yang tak kesal kalau sedang tidur, lalu harus bangun karena harus datang bekerja 1 jam lebih awal akibat ada pekerja baru. Dan kini? Pekerja baru itu bahkan terlambat pada hari perdananya! Suara ketukan pintu ruangan ahjussi bergema. Tak lama sosok namja muncul di balik pintu. Kau terbelalak.

"Se.. (yb)-ssi?!" ucapmu terkejut.

"Annyeonghaseyo, (y-n)-ssi.. ahjussi.." ucap (yb) membungkuk penuh.

"Kalian sudah saling kenal? Baguslah.. silahkan mulai bekerja. Semoga kau menyukai pekerjaan ini, (yb)-ssi.." ucap ahjussi tersenyum lalu kau dan (yb) berjalan keluar ruangan ahjussi.

"Bagaimana bisa.. kau kemarin.." ucapmu terlalu terkejut sampai tak mampu menyelesaikan kalimatmu.

"Songsaenim, kapan aku bisa mulai pelatihan?" tanya (yb) dengan nada polos. Membuatmu ingin menepuk dahimu sekeras mungkin.

"Cukup panggil aku (y/n). Jangan panggil songsaenim, aku tidak setua itu.." ucapmu santai kemudian berjalan ke rak-rak aksesoris anjing dan kucing dengan (yb) yang mengekorimu. Kekehan namja itu terdengar samar di telingamu. Ah.. jinjja..

≈≈

"Ini adalah kandang kelinci yang masih kecil. Kau tak boleh keliru memberikan makanan pada mereka. Bayi kelinci tak boleh diberi pet food di sana.." ucapmu menunjuk toples di ujung rak. "Kau harus memberi makan mereka dengan pet food yang ini.." ucapmu berusaha meraih toples berisi pet food di atas kepalamu. Sialnya, toples itu tergelincir dan menghantam kepalamu mentah-mentah. Kau mengusap kepalamu berulang-ulang. Rasa sakit tertimpa pet food 2kg baru saja merayapi kepalamu. Lalu kau merasa ada tangan lain yang mengusap kepalamu.

"Gwenchanayo? Mengapa bisa jatuh?" suara (yb) bergema di telingamu. Kau menatap tangan (yb) yang tengah mengusap kepalamu. Seketika, canggung datang menghampiri.

"Aniyo.. tanganku basah tadi.. mari kita lanjutkan.." katamu menyingkirkan tangan (yb) pelan. (yb) tersenyum jahil.

"Kau gugup ya? Karena ada aku?" tanyanya percaya diri. Kau mendengus pelan dan meninggalkannya. Walau tak bisa dipungkiri, bahwa hal itu 100% benar!

"Ini rak tempat aksesoris seperti tali kekang dan sepatu khusus anjing dan kucing. Semuanya ada di atas toples kaca itu.." tuturmu menunjuk toples kaca di atas rak.

"Di toples itu? Ahh kyeowoo~ ukurannya sangat kecil. Benar-benar lucu.." komentar (yb) tersenyum lembut. Namun, ia tak sengaja menyenggol rak itu. Menyebabkan toples kaca itu tergelincir. Kau sudah menutup matamu. Pasrah menerima kenyataan bahwa kepalamu akan terkena pecahan kaca. Namun, alih-alih merasakan sakitnya tertusuk pecahan kaca, kau merasakan hembusan hangat tepat di depan wajahmu. Ketika kau membuka mata, (yb) ada di sana.

Wajahnya berada beberapa centi di depan ujung hidungmu. Tangan kanannya berada di punggungmu. Dan tangan kirinya menggenggam toples kaca yang tadi nyaris mendarat bebas di atas kepalamu. Dengan keadaan seperti itu, semburat merah di pipimu jelas tak terkendali lagi. Muncullah mereka menghangatkan pipimu.

"Mianhae.. aku nyaris membahayakanmu.. gwenchana, (y/n)-ah?" tanyanya masih dengan posisi yang sama. Bagaimana bisa gwenchana kalau jarakmu dan (yb) sedekat ini? Kau bahkan bisa mendengar detak jantungmu hingga ke telinga tanpa bantuan stetoskop!

"Gwenchana.. gomawo sudah menyelamatkanku.. sungguh.. gamsahamnida.." ucapmu tertunduk. Membayangkan apa yang terjadi kalau (yb) tidak menangkap toples kaca itu tepat waktu. Dan well.. memelukmu tepat waktu juga.

"Aniya.. ini salahku.. mianhaeyo.." ucapnya menaruh toples itu di tempatnya, lalu membungkuk padamu. Kau menatapnya iba.

"Aniya.. sudahlah.. hal terpenting adalah kini tak ada yang terluka.. kajja kita lanjutkan.." ucapmu tersenyum kemudian menghela (yb) ke tempat kelinci yang tadi penjelasannya tertunda.

≈≈

Hari ini terasa lebih panjang. Tapi kini jam kerja sudah berakhir. Kau membereskan barang-barangmu dan bersiap untuk pulang. Namun sepertinya langit menghendakimu diam di pet shop karena ia menurunkan air matanya dengan deras. Kau tak membawa payung. Dan menunda pulang karena hujan adalah hal paling buruk menurutmu. Kau menghela nafas dan mengunjungi kandang kelinci. Tempat favoritmu. Di kandang itu terdapat kelinci abu-abu dan putih. Mereka sepasang. Kau tersenyum melihat mereka makan satu tempat berdua.

"Kelinci yang lucu.." ucap seseorang membuatmu berbalik. (yb) berdiri dengan dua gelas kertas di tangannya. Ia menyodorkanmu salah satu dari gelas itu. Dari aromanya, kau bisa yakin bahwa isi gelas itu adalah coklat panas. Kau menerimanya dan tersenyum.

"Gomawo (yb)-ssi.." ucapmu sambil berdiri di sebelahnya. Kau meniup cairan coklat itu perlahan. Kemudian menyesapnya sedikit.

"Lihatlah.. apa yang mereka lakukan?" kata (yb). Kau menengok ke arah kandang kelinci itu. Dua kelinci penghuni kandang tengah berdekatan. Si kelinci abu-abu tampak tengah 'mengecup' moncong si kelinci putih. Kau nyaris tersedak.

"Oh.. mereka hanya sedang bermain.." ucapmu ragu. Sangat canggung mengingat kau dan (yb) seperti sedang melihat pemandangan dua kelinci yang berciuman. Sebelum bahasan ini lebih jauh, kau memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. "Coklat ini cukup pahit.. apa ini dark chocolate?" tanyamu polos.

"Aniya.. itu 50% coklat dan 50% hazelnut. Wae? Kurang manis ya?" tanyanya ragu. Kau mengangguk ragu. (yb) menyesap coklatnya lalu mendekat padamu. Kau mundur teratur. Hingga benda keras bernama dinding menghentikan langkahmu, dan..

(yb) mengecup bibirmu. Ia berusaha menyatukan coklat dalam mulutnya dan bibirmu. Kau mengutuk dirimu sendiri. Mengapa dia bisa dengan santainya menutup mata sementara kau terkejut bukan main. Tapi lembutnya apa yang ada di bibirmu tak bisa disangkal. Lantas kau ikut terlarut dalam kecupan itu. Hingga (yb) melepasnya dan tersenyum.

"Rasa coklatnya manis kalau dipadukan dengan bibirmu.." ucapnya mengedipkan sebelah mata. Semakin membuat pipimu bersemu. "Kau tahu alasanku bekerja di sini apa? Itu karena kau. Semenjak bertemu kemarin, kau sudah punya segalanya. Wajah cantik, sifat peduli binatang, lucu, lemah lembut, dan keibuan. Aku benar-benar mendambakan yeoja seperti itu. Dan kau hadir membuatku tersenyum karena sadar kaulah yang kucari.." katanya tersenyum lembut. Ia menaruh gelas kertasnya di meja terdekat. Lalu menggenggam tanganmu lembut. "Would you be mine?" tanyanya pelan tapi pasti. Kau terkejut. Hanya dalam waktu sehari? Tapi tak bisa disangkal juga bahwa kau menyukainya. Bahkan saat ia hanya tersenyum. Kau tersenyum dan mengangguk. Ia memelukmu hangat.

"Gomawo (y/n)-ah.. saranghae. Mari kita menjadi perawat yang bersahabat dengan para hewan." katanya terkekeh. Ia berjongkok di depan kandang kelinci putih dan abu-abu tadi. "Gomawo ya, rabbit couple. Karenamu, aku jadi bisa mengungkapkan perasaanku.." katanya tersenyum polos. Aku tertawa kecil. Setidaknya aku bisa mengubah asumsiku.

Hujan tidak seburuk yang kubayangkan.

THE END

No comments:

Post a Comment