Rabbits & The Rain
An imagine by
himawarigurl21
Cast(s) : you
as (y/n), your bias as (yb), etc.
Genre :
romance, school life
Rating : T
Length :
ficlet.
Disclaimer : i
own nothing in this imagine except the plot. Inspired by one of my live
wallpaper(?). 3rd POV Enjoy reading! ^^
≈≈
"Cause rain
isn't that bad."
≈≈
"Ahh
selesai~" ucapmu lega setelah menuangkan makanan ke tempat makan di salah
satu kandang kelinci. Kau bekerja di salah satu pet shop dekat rumahmu. Ya
hanya untuk kerja sambilan saat kau libur. Selain kau memang penyayang
binatang, kau juga melakukan ini agar kau punya penghasilan sendiri yang
upahnya bisa menjadi uang sakumu pribadi.
"(y/n)-ssi,
kau sudah selesai?" tanya seorang ahjussi dengan kacamata yang melorot
sampai ke dekat ujung hidung. Ahjussi itu adalah pemilik pet shop ini. Beliau adalah
orang yang sudah kau anggap sebagai pamanmu sendiri karena dia dekat denganmu.
"Ne,
ahjussi.. aku baru saja selesai.." ucapmu tersenyum. Kau membenahi kandang
kelinci itu sekali lagi.
"Baguslah..
setelah ini, kau makan siang dulu. Kau menunda makan siangmu demi
kelinci-kelinci itu.." kata ahjussi itu dengan nada khawatir seperti
seorang ayah yang tahu bahwa anaknya belum makan.
"Ne
ahjussi.. sebentar lagi aku akan istirahat.." ucapmu tersenyum lembut.
Memaklumi sikap ahjussi itu. Mengingat ia sangat menginginkan seorang putri.
Namun apa daya, Sang Maha Kuasa menghendaki beliau memiliki dua orang putra
yang kini bersekolah di luar negeri.
Tak lama
setelah ahjussi kembali ke ruang kerjanya, terdengar suara lonceng. Lonceng
yang dipasang di dekat pintu masuk itu berbunyi bila ada yang membuka pintu.
Kau lantas menengok. Mendapati seorang namja tengah menggendong seekor anjing
kecil berjenis Pommerian mendekat ke meja kasir. Kau berjalan ke kasir.
"Annyeonghaseyo,
ada yang bisa saya bantu?" tanyamu formal pada namja itu. Alih-alih
mendengar jawaban namja itu, kau mendapati sepasang mata coklat tua milik namja
itu tengah menatapmu lekat-lekat.
"Ehmm..
aku ingin melakukan grooming dan berbelanja beberapa dog food untuk anjingku
ini.." kata namja itu tersenyum canggung. Ia mengelus kepala anjing dalam
pelukannya. Kau tersenyum lembut melihat betapa namja itu sangat menyayangi
peliharaannya.
"Baiklah..
chamkamman.." ucapmu menggendong anjing kecil milik namja itu ke bagian
grooming. Kemudian kembali lagi untuk melayani namja itu. "Dog food jenis
apa yang anda cari, tuan?" tanyamu sambil berjalan pelan ke rak dimana dog
food disimpan. Namja itu mengikutimu.
"Ehmm..
kurasa yang mengandung hati sapi..dan tolong jangan panggil aku dengan sebutan 'tuan'. Oh Se Hun imnida.." ucap namja
itu dengan nada ramah setengah protes. Kau tersenyum dan menatapnya.
"Mianhamnida,
(yb)-ssi.." ucapmu lalu membungkuk. Kau mulai mencari dog food yang
diinginkan oleh (yb).
"Kau
terlihat sangat lihai dan tangkas. Sepertinya kau sudah cukup lama bekerja di
sini ne, (y/n)-ssi?" tanya (yb) membuat aktifitas memilahmu berhenti
sejenak. Dari mana ia tahu namamu? Kau nyaris akan bertanya, ketika sadar bahwa
nametag berukir namamu tersemat di sebelah kanan atas apronmu.
"Ah ya..
begitulah. Aku menyukai binatang. Dan aku berusaha memperlakukan mereka sebagai
sahabat. Jadi kalau sahabatku lapar, tak mungkin aku menunda untuk memberinya
makan karena tak tahu makanan yang cocok untuknya.." jelasmu dengan nada
ramah. (yb) mengangguk dan tersenyum kecil. Kau melihat senyumnya. Walau hanya
senyum kecil, itu senyum yang menghangatkan. Sebelum pipimu bersemu di
depannya-yang notabenenya adalah konsumenmu-, kau menyerahkan dog food itu
padanya. "(yb)-ssi, ini dog foodnya. Dan grooming akan selesai sekitar 2
jam lagi.." ucapmu berusaha senormal mungkin. Kau menggiringnya ke meja
kasir.
"Gomawo,
(y/n)-ssi.. aku akan kembali untuk mengambil Danchoo nanti.." katanya
tersenyum lagi. Ia menyodorkan uangnya. Baru kau akan memberinya kembalian, (yb)
sudah pergi.
"Ah jinjja
otte? Dia akan kembali bukan? Aku berikan nanti saja.." ucapmu pelan. Kau
menaruh kembalian itu di mesin kasir. Lalu kau pergi ke pantry kecil di pet
shop itu. Menyantap makan siangmu yang sedari tadi tertunda.
≈≈
Dua jam
kemudian, kau mengeringkan Danchoo dengan handuk sambil menunggu (yb) datang.
Tak lama, majikan Danchoo datang. Ia tersenyum melihatmu tengah menggendong
Danchoo. Namja itu memakai pakaian yang berbeda. Saat datang tadi, ia hanya
menggunakan kaus putih polos dengan celana panjang biru dan sneakers hitam.
Kini ia terlihat lebih santai. Dengan sweater biru dengan celana khaki selutut
dan sneakers putih yang membuatnya terlihat lebih cerah.
"(yb)-ssi,
ini Danchoo. Dia anjing yang sangat baik dan lucu." komentarmu sambil
menyerahkan Danchoo pada (yb). Namja itu terkekeh kecil.
"Gomawo
sudah merawatnya dengan baik selama 2 jam ini, (y/n)-ssi.." katanya
tersenyum padamu. Senyum yang jauh lebih hangat. Jauh lebih manis. Dan.. jauh
lebih mendesak semburat merah di pipimu untuk muncul.
"Oh ya,
kembalianmu untuk dog food dan grooming.." ucapmu menyerahkan kembalian
itu pada (yb). (yb) menggeleng pelan.
"Ambil
saja kembaliannya untukmu.." ucapnya pelan namun pasti. "Aku pulang
dulu ne, (y/n)-ssi.. sampai jumpa.." katanya tersenyum.
"Annyeong,
(yb)-ssi.. kembali lagi lain kali.." kataku membungkuk. Sampai jumpa? Dia
akan ke sini? Syukurlah. Pet shop ini akan punya pelanggan tetap, pikirmu.
≈≈
Esok paginya,
kau terbangun karena suara ponselmu yang berdering singkat. Ada pesan masuk.
Pesan itu dari ahjussi di pet shop. Katanya kau harus datang ke pet shop 1 jam
lebih awal. Ada pekerja baru. Kau menghela nafas lalu bersiap-siap pergi ke pet
shop.
≈≈
"(Y/n)-ssi,
pekerja baru itu akan tiba 15 menit lagi.." kata ahjussi menenangkanmu
yang sedari tadi tampak gelisah menunggu pekerja baru itu. Ya, siapa yang tak
kesal kalau sedang tidur, lalu harus bangun karena harus datang bekerja 1 jam lebih
awal akibat ada pekerja baru. Dan kini? Pekerja baru itu bahkan terlambat pada
hari perdananya! Suara ketukan pintu ruangan ahjussi bergema. Tak lama sosok
namja muncul di balik pintu. Kau terbelalak.
"Se.. (yb)-ssi?!"
ucapmu terkejut.
"Annyeonghaseyo,
(y-n)-ssi.. ahjussi.." ucap (yb) membungkuk penuh.
"Kalian
sudah saling kenal? Baguslah.. silahkan mulai bekerja. Semoga kau menyukai
pekerjaan ini, (yb)-ssi.." ucap ahjussi tersenyum lalu kau dan (yb)
berjalan keluar ruangan ahjussi.
"Bagaimana
bisa.. kau kemarin.." ucapmu terlalu terkejut sampai tak mampu
menyelesaikan kalimatmu.
"Songsaenim,
kapan aku bisa mulai pelatihan?" tanya (yb) dengan nada polos. Membuatmu
ingin menepuk dahimu sekeras mungkin.
"Cukup
panggil aku (y/n). Jangan panggil songsaenim, aku tidak setua itu.."
ucapmu santai kemudian berjalan ke rak-rak aksesoris anjing dan kucing dengan (yb)
yang mengekorimu. Kekehan namja itu terdengar samar di telingamu. Ah.. jinjja..
≈≈
"Ini
adalah kandang kelinci yang masih kecil. Kau tak boleh keliru memberikan
makanan pada mereka. Bayi kelinci tak boleh diberi pet food di sana.."
ucapmu menunjuk toples di ujung rak. "Kau harus memberi makan mereka
dengan pet food yang ini.." ucapmu berusaha meraih toples berisi pet food
di atas kepalamu. Sialnya, toples itu tergelincir dan menghantam kepalamu
mentah-mentah. Kau mengusap kepalamu berulang-ulang. Rasa sakit tertimpa pet
food 2kg baru saja merayapi kepalamu. Lalu kau merasa ada tangan lain yang
mengusap kepalamu.
"Gwenchanayo?
Mengapa bisa jatuh?" suara (yb) bergema di telingamu. Kau menatap tangan (yb)
yang tengah mengusap kepalamu. Seketika, canggung datang menghampiri.
"Aniyo..
tanganku basah tadi.. mari kita lanjutkan.." katamu menyingkirkan tangan (yb)
pelan. (yb) tersenyum jahil.
"Kau gugup
ya? Karena ada aku?" tanyanya percaya diri. Kau mendengus pelan dan
meninggalkannya. Walau tak bisa dipungkiri, bahwa hal itu 100% benar!
"Ini rak
tempat aksesoris seperti tali kekang dan sepatu khusus anjing dan kucing.
Semuanya ada di atas toples kaca itu.." tuturmu menunjuk toples kaca di
atas rak.
"Di toples
itu? Ahh kyeowoo~ ukurannya sangat kecil. Benar-benar lucu.." komentar (yb)
tersenyum lembut. Namun, ia tak sengaja menyenggol rak itu. Menyebabkan toples
kaca itu tergelincir. Kau sudah menutup matamu. Pasrah menerima kenyataan bahwa
kepalamu akan terkena pecahan kaca. Namun, alih-alih merasakan sakitnya
tertusuk pecahan kaca, kau merasakan hembusan hangat tepat di depan wajahmu.
Ketika kau membuka mata, (yb) ada di sana.
Wajahnya berada
beberapa centi di depan ujung hidungmu. Tangan kanannya berada di punggungmu.
Dan tangan kirinya menggenggam toples kaca yang tadi nyaris mendarat bebas di
atas kepalamu. Dengan keadaan seperti itu, semburat merah di pipimu jelas tak
terkendali lagi. Muncullah mereka menghangatkan pipimu.
"Mianhae..
aku nyaris membahayakanmu.. gwenchana, (y/n)-ah?" tanyanya masih dengan posisi
yang sama. Bagaimana bisa gwenchana kalau jarakmu dan (yb) sedekat ini? Kau
bahkan bisa mendengar detak jantungmu hingga ke telinga tanpa bantuan
stetoskop!
"Gwenchana..
gomawo sudah menyelamatkanku.. sungguh.. gamsahamnida.." ucapmu tertunduk.
Membayangkan apa yang terjadi kalau (yb) tidak menangkap toples kaca itu tepat
waktu. Dan well.. memelukmu tepat waktu juga.
"Aniya..
ini salahku.. mianhaeyo.." ucapnya menaruh toples itu di tempatnya, lalu
membungkuk padamu. Kau menatapnya iba.
"Aniya.. sudahlah..
hal terpenting adalah kini tak ada yang terluka.. kajja kita lanjutkan.."
ucapmu tersenyum kemudian menghela (yb) ke tempat kelinci yang tadi
penjelasannya tertunda.
≈≈
Hari ini terasa
lebih panjang. Tapi kini jam kerja sudah berakhir. Kau membereskan
barang-barangmu dan bersiap untuk pulang. Namun sepertinya langit menghendakimu
diam di pet shop karena ia menurunkan air matanya dengan deras. Kau tak membawa
payung. Dan menunda pulang karena hujan adalah hal paling buruk menurutmu. Kau
menghela nafas dan mengunjungi kandang kelinci. Tempat favoritmu. Di kandang
itu terdapat kelinci abu-abu dan putih. Mereka sepasang. Kau tersenyum melihat
mereka makan satu tempat berdua.
"Kelinci
yang lucu.." ucap seseorang membuatmu berbalik. (yb) berdiri dengan dua
gelas kertas di tangannya. Ia menyodorkanmu salah satu dari gelas itu. Dari
aromanya, kau bisa yakin bahwa isi gelas itu adalah coklat panas. Kau
menerimanya dan tersenyum.
"Gomawo (yb)-ssi.."
ucapmu sambil berdiri di sebelahnya. Kau meniup cairan coklat itu perlahan.
Kemudian menyesapnya sedikit.
"Lihatlah..
apa yang mereka lakukan?" kata (yb). Kau menengok ke arah kandang kelinci
itu. Dua kelinci penghuni kandang tengah berdekatan. Si kelinci abu-abu tampak
tengah 'mengecup' moncong si kelinci putih. Kau nyaris tersedak.
"Oh..
mereka hanya sedang bermain.." ucapmu ragu. Sangat canggung mengingat kau
dan (yb) seperti sedang melihat pemandangan dua kelinci yang berciuman. Sebelum
bahasan ini lebih jauh, kau memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan.
"Coklat ini cukup pahit.. apa ini dark chocolate?" tanyamu polos.
"Aniya..
itu 50% coklat dan 50% hazelnut. Wae? Kurang manis ya?" tanyanya ragu. Kau
mengangguk ragu. (yb) menyesap coklatnya lalu mendekat padamu. Kau mundur
teratur. Hingga benda keras bernama dinding menghentikan langkahmu, dan..
(yb) mengecup
bibirmu. Ia berusaha menyatukan coklat dalam mulutnya dan bibirmu. Kau mengutuk
dirimu sendiri. Mengapa dia bisa dengan santainya menutup mata sementara kau
terkejut bukan main. Tapi lembutnya apa yang ada di bibirmu tak bisa disangkal.
Lantas kau ikut terlarut dalam kecupan itu. Hingga (yb) melepasnya dan
tersenyum.
"Rasa
coklatnya manis kalau dipadukan dengan bibirmu.." ucapnya mengedipkan
sebelah mata. Semakin membuat pipimu bersemu. "Kau tahu alasanku bekerja
di sini apa? Itu karena kau. Semenjak bertemu kemarin, kau sudah punya
segalanya. Wajah cantik, sifat peduli binatang, lucu, lemah lembut, dan
keibuan. Aku benar-benar mendambakan yeoja seperti itu. Dan kau hadir membuatku
tersenyum karena sadar kaulah yang kucari.." katanya tersenyum lembut. Ia
menaruh gelas kertasnya di meja terdekat. Lalu menggenggam tanganmu lembut.
"Would you be mine?" tanyanya pelan tapi pasti. Kau terkejut. Hanya
dalam waktu sehari? Tapi tak bisa disangkal juga bahwa kau menyukainya. Bahkan
saat ia hanya tersenyum. Kau tersenyum dan mengangguk. Ia memelukmu hangat.
"Gomawo
(y/n)-ah.. saranghae. Mari kita menjadi perawat yang bersahabat dengan para
hewan." katanya terkekeh. Ia berjongkok di depan kandang kelinci putih dan
abu-abu tadi. "Gomawo ya, rabbit couple. Karenamu, aku jadi bisa
mengungkapkan perasaanku.." katanya tersenyum polos. Aku tertawa kecil.
Setidaknya aku bisa mengubah asumsiku.
Hujan tidak
seburuk yang kubayangkan.
THE END

No comments:
Post a Comment